Berlari aku dikejar
Kesetanan aku berlari
Ujung jari seperti sudah kapalan karena banyak berlari
Sampai mana harus lari lagi?
Nafas sudah kemelus hitam seperti asap bis kota
nggak usah lari! Sampai kapan kamu lari?
Teriakkannya membuatku terlonjak
Lariku kencangkan
duduk dulu! kita bicara!
Keringat yang membanjiri baji sampai pelipis kuseka
Aku capai!
Kududukkan pantatku di tepian batu hitam
Tidak ada minum tidak ada makan
Dan semuanya seperti temaram
Sampai kapan kamu hindari aku? Sejauh kamu lari, semua tidak akan selesai
Sejauh aku bisa pergi dari kamu
Untuk apa kamu lari?
Dari jauh kamu kelihatan ngeri
Badan kamu tinggi,
Sedang aku kecil begini
Keberanian tidak tergantung ukuran, ta
Biarlah, selama aku bisa lari jauh dari kamu
Aku lalu berjalan pelan lagi
Mencoba pergi
Setelah kita bercakap, apakah aku sengeri itu?
Tidak juga.
Aku tau nama kamu lho
Siapa?
Tata. Mau kenalan dulu?
Untuk apa kita kenalan
Dari pengalamanku dulu kamu meninggalkanku dengan pahit.
Aku kenyataan. Dan kamu gak bisa lari dari aku sejauh apapun itu.
Tata! Bangun! Tidur terus.
"Iya, MAAAK!"
Teriakan emak bagai petir di siang hari
Menyilet kuping seperti belati
Kubangun dan berlari lagi,
Berlari menuju kamar mandi
Dan menghadapi semua kenyataan ini
Kesetanan aku berlari
Ujung jari seperti sudah kapalan karena banyak berlari
Sampai mana harus lari lagi?
Nafas sudah kemelus hitam seperti asap bis kota
nggak usah lari! Sampai kapan kamu lari?
Teriakkannya membuatku terlonjak
Lariku kencangkan
duduk dulu! kita bicara!
Keringat yang membanjiri baji sampai pelipis kuseka
Aku capai!
Kududukkan pantatku di tepian batu hitam
Tidak ada minum tidak ada makan
Dan semuanya seperti temaram
Sampai kapan kamu hindari aku? Sejauh kamu lari, semua tidak akan selesai
Sejauh aku bisa pergi dari kamu
Untuk apa kamu lari?
Dari jauh kamu kelihatan ngeri
Badan kamu tinggi,
Sedang aku kecil begini
Keberanian tidak tergantung ukuran, ta
Biarlah, selama aku bisa lari jauh dari kamu
Aku lalu berjalan pelan lagi
Mencoba pergi
Setelah kita bercakap, apakah aku sengeri itu?
Tidak juga.
Aku tau nama kamu lho
Siapa?
Tata. Mau kenalan dulu?
Untuk apa kita kenalan
Dari pengalamanku dulu kamu meninggalkanku dengan pahit.
Aku kenyataan. Dan kamu gak bisa lari dari aku sejauh apapun itu.
Tata! Bangun! Tidur terus.
"Iya, MAAAK!"
Teriakan emak bagai petir di siang hari
Menyilet kuping seperti belati
Kubangun dan berlari lagi,
Berlari menuju kamar mandi
Dan menghadapi semua kenyataan ini
Tidak ada komentar:
Posting Komentar